Festival Kebaya Banyuwangi Jadi Ajang Pemberdayaan Desainer Lokall
https://banyuwanginews1.blogspot.com/2017/03/festival-kebaya-banyuwangi-jadi-ajang.html
BANYUWANGI - Festival Kebaya bakal digelar di Kabupaten Banyuwangi pada 22 April mendatang dengan mengusung tema Gandrung, tarian khas Banyuwangi yang sudah sangat terkenal. Selain berorientasi pada atraksi wisata, festival kebaya pertama di Indonesia ini juga menjadi sarana peningkatan daya saing para desainer dan perajin lokal.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, festival kebaya
digelar untuk membidik pasar kebaya yang sangat besar. Setiap perempuan
hampir selalu mengenakan kebaya saat acara-acara spesial. Dengan promosi
karya kolaborasi desainer nasional dan Banyuwangi melalui festival
tersebut, diharapkan pasar para pelaku usaha fesyen lokal ikut
terangkat.
"Efek bisnis ke depan juga menjadi salah satu pertimbangan
digelarnya event ini. Kebaya kan sesuatu yang tidak asing lagi di
Indonesia. Tapi mengapa belum ada yang menjadikan salah satu kekayaan
budaya kita itu sebagai event budaya? Potensi pasar inilah yang akan
kita tangkap," ujar Anas.
Sejumlah inovasi akan dilakukan, antara lain memadukan desain kebaya
dengan khazanah seni-budaya Banyuwangi, seperti Tari Gandrung dan
beragam motif batik banyuwangi. Untuk keperluan inovasi tersebut, mulai
Senin-Selasa (13-14/3/2017) telah digelar workshop pembuatan kebaya yang
diikuti puluhan peserta dari Industri Kecil dan Menengah (IKM), para
desainer lokal, siswa sekolah program studi busana dan batik, serta
kalangan seniman. Instrukturnya datang dari pelaku industri fesyen
nasional.
"Dalam membuat program, kami selalu mengusung unsur pemberdayaan.
Seperti Festival Kebaya yang bukan hanya bicara kemasan event, tapi juga
bagaimana cara meningkatkan kompetensi desainer dan perajin lokal.
Dengan melibatkan desainer nasional yang telah teruji track record-nya,
transformasi kompetensi akan lebih cepat dan mudah dilakukan," ujar
Anas.
Anas optimistis Festival Kebaya akan ikut mengerek bisnis para UMKM
fesyen di Banyuwangi. "Seperti batik, setelah kami kemas lewat
Banyuwangi Batik Festival, bahkan hingga ditampilkan di Indonesia
Fashion Week, permintaan batik banyuwangi meningkat, bahkan banyak
pembelian dari luar kota lewat online dan tentu dari wisatawan yang ke
Banyuwangi. Jumlah perajin dan UMKM-nya naik," papar Anas.
Festival Kebaya ini didukung Indonesian Fashion Chamber (IFC).
Chairman IFC Ali Charisma mengatakan, selama ini belum ada event yang
khusus menggarap kebaya secara menyeluruh.
"Sebenarnya kebaya ini sudah tidak asing di Indonesia karena banyak
acara terkait kebaya seperti fashion show. Namun semua masih dilakukan
dalam skala kecil dan belum terorganisasidengan baik. Padahal, kebaya
ini bila digarap serius potensinya sangat besar. Banyuwangi adalah
daerah pertama yang menggarapnya. Ini ujungnya ada di bisnis, biar
perajin dan UMKM lokal terangkat, dan ini butuh fondasi yang kuat"
terang Ali.
Fondasi itu diwujudkan dengan membikin inkubator bisnis. Para
desainer nasional mengerek kompetensi desainer dan perajin busana lokal
dengan memberi pelatihan kepada 100 pelaku usaha dalam dua tahap.
"Para desainer dan perajin lokal diinjeksi materi tentang bagaimana
pembuatan DNA brand, yakni mengajarkan agar fokus dan mengejar target
pasar yang akan diambil, teknis pengerjaan kebaya, dan manajemen
usaha. Harapan kami saat bulan depan digelar, Banyuwangi telah siap dari
sisi bisnis maupun kreasi dari pelakunya," tutur Ali.
Sejumlah desainer papan atas yang terlibat antara lain Ferry Sunarto,
Priscilla Saputro, Lenny Agustin, Deden Siswanto. Komunitas fesyen dari
berbagai kota juga memastikan hadir. "Kami juga kontak Anne Avantie
untuk terlibat dalam acara yang punya visi pemberdayaan desainer dan
perajin lokal ini," jelas Ali. (humas)






Posting Komentar