Gagal Jadi TKI Jadi Pandai Besi
https://banyuwanginews1.blogspot.com/2017/05/gagal-jadi-tki-jadi-pandai-besi.html
CLURING-Gagal meraup ringgit saat menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia, Sakuni, 51, asal Dusun Pandansari, Desa Sarimulyo, Kecamatan Cluring, banting setir dengan membuka usaha pandai besi. Dengan sisa uang dari bekerja selama enam bulan di Malaysia, Sakuni membuka usaha pembuatan pisau, celurit, dan golok di rumahnya.
“Saya malah lebih senang dengan seperti
ini,” katanya pada Jawa Pos Radar Genteng. Sukani mengaku bisa membuat
pisau dan alat rumah tangga lainnya itu sejak masih berumur 10 tahun.
Tapi, menekuni usaha ini secara serius sepulang dari Malaysia.
“Baru serius untuk cari penghasilan
setelah dari Malaysia,” ujarnya. Dalam memulai usahanya ini, Sakuni
mengaku hanya memiliki modal Rp 5 juta. Uang sebesar itu, sisa dan hasil
saat bekerja di Malaysia.
“Saya bertekad harus berhasil dan nanti
punya anak buah,” cetusnya. Berkat ketekunannya, dalam melaksanakan
usaha ini setiap hari harus mengeluarkan dana sebesar Rp 2 juta. Dana
sebesar itu dibuat untuk biaya pembelian bahan, biaya produksi,
pemasaran, dan upah untuk tiga karyawannya.
“Pengeluaran cukup tinggi
juga,” terangnya. Sakuni mengaku di pandai besi itu mampu memproduksi 40
peralatan iris per hari yang meliputi pisau, celurit, dan jenis
lainnya, untungnya sekitar 10 persen hingga 20 persen dari pengeluaran
itu,” cetusnya.
Sakuni berharap usaha pandai besi yang ditekuni itu bisa terus berjalan.
Sebab, dirinya sudah bertekad untuk bekerja di rumah bersama para
tetangga yang membantu. “Saya lebih senang kerja di rumah dari
pada jauh-jauh dengan menjadi TKI,” katanya.(radar)







Posting Komentar